Angularjs Jumpstart with Dan Wahlin Coupon

Angularjs Jumpstart with dan Wahlin Coupon Membangun aplikasi Web?  Belajarlah untuk membangun Aplikasi Halaman Tunggal (SPA) yang k...

MASIGNCLEAN101

Kisah Luar Biasa Peneliti di Universitas, Lembaga Penelitian, dan Industri

iklan banner


*Catatan reuni kecil: Antara Hulu dan Hilir*

Setelah 8 tahun tidak bersua, akhirnya saya bertemu Ginu Rajan di University of Wollongong Australia. Teman seperjuangan asal India pada saat menyelesaikan pascasarjana di Dublin tempo dulu. Pada saat itu ada 3 orang mahasiswa pasca di grup kami, yaitu saya, dia dan Pengfei Wang dari Cina.

Kami tergabung dalam suatu proyek pengembangan sensor fiber optics. Fiber optic telah menjadi backbone dalam telekomunikasi dan jaringan internet. Pada saat ini, fiber optic juga telah dimanfaatkan sebagai sensor-sensor yang strategis.
Kami bertiga cukup sering berkomunikasi meskipun hanya melalui media email. Bertemu kembali setelah lebih dari lima tahun berpisah, ada banyak hal yang dibicarakan, mengenang masa lalu, persahabatan, capaian dan lainnya.
Sebelumnya, saya telah bertemu dengan Pengfei Wang, di Bali dan Harbin Cina di tahun 2016 dan 2017 yang lalu. Pada saat ini Pengfei menjadi profesor riset di Shenzhen University dan Harbin Engineering University. Setelah menempuh penelitian pascadoktoral, dia memutuskan kembali ke negerinya. Bergabung melalui program rekrutmen pemerintah Cina yang prestisius. Alhasil, Pengfei memiliki dukungan yang sangat besar dari pemerintahannya.
Topik risetnya berkaitan dengan pengembangan piranti dan material sensor fiber optik yang nantinya digunakan pada sistem LiDAR (light detection and ranging). LiDAR digunakan dalam pembuatan peta dengan resolusi yang sangat tinggi dan kaya informasi. Perjuangan risetnya masih cukup panjang. Berkolaborasi, merekrut tenaga peneliti pascadoktoral, mahasiswa pasca, membina kegiatan riset dan seterusnya.

Kembali ke Ginu Rajan. Di negeri kanguru, Ginu masih mengembangkan sensor fiber optik. Dia membangun jejaring dengan kolega di teknik mesin, teknik sipil bahkan dengan kedokteran gigi. Dia menerapkan sensor fiber optik untuk berbagai aplikasi praktis.
Bersama Prof. Gangadhara Prusty (Teknik Mesin - University of New South Wales), dia menerapkan sensor fiber optik untuk monitoring fabrikasi material komposit. Material komposit digunakan untuk badan pesawat terbang, turbin angin dan lainnya. Sensor fiber optik ini dimanfaatkan dalam proses fabrikasi maupun pasca fabrikasi untuk mengukur sifat-sifat material tersebut. Mereka berhasil mengembangkan sistem fabrikasi otomatis material komposit untuk ragam aplikasi.
Kedua kawan saya, menekuni kegiatan riset yang berbeda dalam arahnya. Pengfei Wang lebih memilih arah hulu, mencari konfigurasi baru sensor fiber optik dan mengeksplorasi material-material optik. Sedangkan Ginu Rajan, memilih arah hilir. Sensor fiber optik diterapkan pada berbagai aplikasi dan menawarkan inovasi baru berbasis sensor fiber optik.

Kegiatan riset hulu dan hilir, ada perbedaannya. Kegiatan di hulu, membutuhkan ketekunan dalam mengkaji teori-teori dan membutuhkan fasilitas karakterisasi dan fabrikasi yang tidak murah. Sedangkan kegiatan di hilir, tantangannya adalah mendapatkan kolaborator dan memahami permasalahan aplikatif. Komunikasi yang baik dengan kolega/pengguna, mutlak diperlukan.
Keduanya mempunyai arah riset yang berbeda, namun demikian mereka sangat produktif dan tercermin dari jumlah publikasi riset dan dampaknya. Dalam hal ini, saya tertinggal dengan mereka. Padahal di tempat belajar dulu, kami lulus dalam waktu dan produktivitas riset yang kurang lebih sama.

Alokasi waktu adalah salah satu faktor sukses dalam kegiatan riset. Pengfei Wang, sebagai profesor riset, mendedikasikan 90% waktu kerjanya untuk riset dan hanya 1 mata kuliah yang diampu tiap semester. Sedangkan Ginu Rajan sebagai seorang senior lecturer (setara Lektor), sesuai sistem di Australia, mengalokasikan waktu kerjanya 40:40:20% untuk riset:pengajaran:administrasi. Sedangkan kami di Indonesia, waktu kerja sudah banyak terkuras untuk perkuliahan, administrasi dan rapat. Apalagi yang diberikan amanah tugas tambahan sebagai pejabat di kampus.
Kami bertiga akan terus berkomunikasi. Dan mudah-mudahan di "reuni" mendatang, saya akan ceritakan capaian di ITS. Dengan catatan penting, kemanapun arah risetnya, baik hulu ataupun hilir, kita perlu tingkatkan alokasi waktu sebagai periset.

Kerja yang dibutuhkan tidak lagi kerja cerdas atau lainnya, melainkan kerja keras. Seperti kutipan berikut ini: "Students in high-ranked schools work between 60 and 80 hours per week. Faculty spend a similar amount of time. Don't get fooled that you do better than some colleagues while spending a lot less time." [Borcea, 2008].

Agus Muh Hatta-Tekfis ITS

Share This :
Zaenal Arifin

Most Popular